Til the End

Title : Till the End
Author : coolcat951007
Genre : romance
Rate : G
Part : 1/1 (1s)
Cast :
-         Yong Junhyung
-         Choi Eunsun


Melupakanmu?
Kenapa semudah itu kau meminta padaku untuk melakukannya?
Bagaimana bisa aku melupakanmu? Sementara semua yang ada dalam ruangan ini adalah kau. Sementara kau masih tetap hidup dalam hatiku.
tidak, aku tak akan sanggup melakukannya. Aku tak akan sanggup melupakanmu. Menghapus semua cerita yang sudah terukir dengan begitu sempurna. Meski kau pergi jauh, meski kau meninggalkanku dan tak akan kembali walau aku berlutut padamu atau menghabiskan seluruh malamku untuk menangisi kepergianmu. Aku tak akan mampu melupakanmu.
Tak bisakah kau biarkan aku untuk tetap mengingatmu? Tak bisakah kau mengijinkanku untuk terus membiarkanmu hidup dalam hatiku?
***

Aku sedikit berlari menembus derasnya hujan yang membasahi seluruh jalan. Aku terus melangkahkan kakiku dengan cepat mendekati sebuah kedai sederhana.
“annyeonghaseyo” seorang gadis yang berdiri di samping pintu menyapaku dengan sangat ramah. Sebuah senyum yang melebar di bibirnya terlihat begitu indah menghiasi setiap lekuk wajahnya yang nyaris mendekati sempurna.
“ah, tuan kau kehujanan? Lihat pakaianmu basah sekali” suaranya yang terdengar cemas menyadarkanku dari lamunan singkatku saat melihat senyumnya.

Aku tersenyum canggung, merutuki betapa bodohnya diriku yang sampai kehilangan payung dan muncul di hadapan gadis secantik ini dengan keadaan basah kuyup seperti ini.
“kau boleh berteduh sebentar disini” gadis itu menuntun langkahku menuju salah satu kursi di sudut kedai. Dengan senyum yang sedikit terlihat bodoh, aku mengikutinya dan duduk di sebuah kursi yang tepat berada di samping jendela. Gadis itu memperhatikanku sejenak dan tersenyum, membuat jantungku berdetak dengan lebih kencang sesaat sebelum dia membawa langkhnya berjalan menjauh dariku.

Aku memperhatikan seisi kedai. Tenang. Begitulah, tidak terlalu banyak orang disini. Dan beberapa orang yang berada disini dengan secangkir minuman hangat dan makanan ringan di meja mereka, terlihat sibuk dengan diri mereka masing-masing.

Tak ada yang menarik, dan aku segera mengalihkan pandanganku keluar jendela. Memperhatikan setiap butir air hujan yang berjatuhan. Aku meniupkan nafasku pada jendela, membuatnya berembun dan mulai mengangkat jari telunjukku membuat gambar seorang gadis dengan seragam waitress di sana. Dan senyumku, tiba-tiba saja terukir dengan sangat lebar ketika kembali menatap gambar yang kubuat pada jendela.
“permisi tuan” suara itu sungguh membuatku terkejut dan segera menghapus embun yang kubuat pada jendela dengan tergesa. Dan setelah berhasil mengontrol degup jantungku, aku menoleh pada seorang gadis yang kini tengah menatapku dengan tatapannya yang sedikit sulit diartikan.
“maaf, aku mengejutkanmu” gadis itu membungkukkan sedikit tubuhnya dan menyembunyikan wajah mungilnya yang aku tahu sedang menahan tawa kecil di bibirnya.
“ini aku pinjamkan dari salah satu pegawai, mungkin kau bisa memakainya” ucapnya seraya menyodorkan sebuah handuk dan pakaian padaku. Aku hanya terdiam, terpaku menatapnya dengan penuh tanya.
“kau akan sakit jika memakai pakaian basah seperti itu” gadis itu melirik pakaianku yang memang sudah basah kuyup dengan wajah cemasnya yang membuat senyumku melebar dengan sendirinya.
***
 

Tidak membawa payung di musim hujan. Bodoh sekali bukan?
Aku, sebenarnya aku bukanlah orang bodoh dan ceroboh yang selalu lupa dengan payung milikku. Tidak. Aku selalu ingat untuk membawa payungku. Dan aku selalu meletakkannya di loker milikku. Tapi tiba-tiba payungku menghilang dan memaksaku untuk berlari di tengah hujan seperti orang bodoh. Dan ku rasa, sudah di gariskan pada hari itu aku bertemu dengannya dengan kondisi seperti itu. Seandainya saja waktu itu aku tidak kehilangan payungku, tentu tidak mungkin aku memasuki kedai sederhana itu dan bertemu dengannya, malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirim untukku.
***

“apa-apaan kau, hah?” sebuah pukulan mendarat tepat di wajahku. Aku meringis menahan sakit yang terasa.
“aku tidak mau menikah dengannya, appa” kali ini aku membantah dengan nada rendah dan air mata yang sudah berlinang di kedua mataku, membuat ayahku segera menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kesayangannya seraya mendengus kesal, meluapkan semua kemarahannya.

Umma memeluk kedua bahuku yang bergetar hebat menahan air mataku yang hendak jatuh.
“aku, aku selalu menuruti apa yang appa suruh padaku. Aku bahkan meninggalkan dance yang sudah sangat membaur dengan hidupku. Aku sudah membuang jauh-jauh duniaku hanya untuk memenuhi apa yang appa mau. Tapi kumohon, kali ini saja. Ijinkan aku memilih jalanku” ucapku perlahan yang membuat appa segera mengalihkan pandangannya dariku yang sudah tak mampu lagi menahan air mata di pipiku.
“apa karena gadis penjaga kedai itu?” appa menatapku tajam, dan aku hanya terdiam. Aku menundukkan kepalaku. Di satu sisi aku merasa sangat berdosa pada pria yang kini menatapku dengan penuh emosi.

Sebagai anak, tidak seharusnya aku menentang keputusannya seperti ini. Tapi di sisi lain, aku tak bisa menikah dengan gadis pilihan ayahku dan melupakan malaikat kecil itu begitu saja. Ini merupakan suatu pilihan sulit yang cukup mengacaukan pikiranku.
“hanya karena gadis miskin tak berpendidikan itu kau berani menentang appa?!” suara ayah kembali meninggi membuatku segera mendongakkan wajahku dan menatap tepat pada manik matanya dengan sedikit kasar. Berdosalah aku sudah menentang ayahku sendiri. Apapun yang terjadi aku tak akan meninggalkannya. Seorang gadis yang dengan tulus menyayangiku, yang mampu membuatku tenang hanya karena senyum yang terukir lembut di bibir mungilnya.
“terserah apa yang appa katakan, aku tak akan mengubah keputusanku!” aku mengangkat tubuhku, membawa langkahku berjalan meninggalkan rumah dengan cepat. Kudengar, ayah meneriakkan namaku disertai beberapa makian. Dan dapat dengan jelas ku dengar isak tangis umma mengiringi tiap langkah yang ku buat untuk semakin menjauh dari rumah itu.

Aku tahu, aku sudah mengecewakan kalian sangat banyak dengan keputusan ini. Tapi sungguh, aku tak bisa jika kalian memintaku untuk meninggalkannya. Umma, appa, mianhae…
***

“ah, Junhyung a, ada apa?” gadis itu muncul dari balik pintu rumah sederhananya dengan wajah penuh tanya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, segera ku raih tubuh mungilnya dan mendekapnya dalam pelukan.
“saranghae… saranghae Eunsun a” hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibirku saat air mataku kembali jatuh membasahi wajahku dan menetes di pundak gadis yang kini membeku dalam pelukanku.
“menikahlah denganku!” pintaku seraya menatap wajah mungilnya yang kini menyunggingkan sebuah senyum simpul yang terlihat begitu sempurna.
“aku tak mungkin menutupi kalau aku juga mencintaimu, tapi untuk menikah denganmu… aku cukup sadar bahwa gadis sepertiku memang tak pantas untukmu. Ada begitu banyak wanita yang jauh lebih baik dariku di luar sana yang menunggumu. Seperti wanita yang ayahmu pilihkan untukmu. Aku yakin dia pasti wanita yang sangat baik” sebuah senyum simpul lagi-lagi terukir sempurna di wajahnya saat gadis itu mengakhiri kalimatnya yang membuat dadaku terasa sedikit sesak.
“apa hanya karena perbedaan latar belakang? Sungguh mengerikan” gadis itu terdiam, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit untuk di ucapkannya. Mata bulatnya menatapku dengan lembut, membuat dadaku terasa semakin sesak.
“pulanglah, keluargamu pasti akan sangat mencemaskanmu” kalimat yang pada akhirnya meluncur dari bibirnya diiringi dengan sebuh senyum lembutnya.
“aku akan meninggalkan mereka untuk bisa bersamamu”
“jangan egois. Pikirkan bagaimana perasaan orangtua mu”
“bahkan mereka tak pernah peduli pada perasaanku”
“mereka ingin yang terbaik untukmu. Hanya itu” hening, gadis itu kembali tersenyum saat mengakhiri kalimatnya. Perlahan dia mulai membawa tubuhnya perlahan bersembunyi di balik pintu rumahnya.
“Eunsun a….” aku mencoba memanggil namanya yang berhasil membuat langkahnya terhenti.
“pergilah Junhyung a, lupakan aku” ucap gadis itu tanpa menatap padaku sedikitpun sesaat sebelum menutup rapat pintu rumahnya.
***

Seperti itulah, aku bahkan tak dapat mempercayainya. Semudah itu kau memintaku untuk pergi dan melupakanmu? Menyedihkan.
Tapi aku bukanlah seorang pria yang akan menyerah hanya karena permasalahan seperti itu. Dan aku tahu, kau mengerti itu lebih dari aku.
Walau sulit memang, dan tak terhitung berapa banyak pukulan yang ayah daratkan dengan sempurna di wajahku. Aku tak pernah menyerah. Aku hanya ingin menikah denganmu. Menghabiskan seluruh sisa waktuku denganmu, malaikat yang sudah Tuhan pilihkan untukku.
***

Dengan senyum yang melebar di bibirku dengan sangat lebar, aku menatap sebuah kedai sederhana di seberang jalan. Aku merapikan sedikit pakaianku, dan menyembunyikan seikat bunga dan sebuah kotak kecil berwarna merah marun di balik tuxedo putih yang ku kenakan.

Aku melangkah keluar mobil dan dengan tergesa berlari menerobos derasnya hujan memasuki sebuah kedai sederhana itu.
“annyeongha…” suara ramah dari seorang gadis penjaga pintu terhenti dan segera menatapku dengan sangat terkejut. Dan aku hanya mampu melebarkan senyum lebarku padanya yang segera merubah ekspresi terkejutnya menjadi sangat cemas.
“ada apa dengan wajahmu?” jemari Eunsun dengan perlahan menyentuh lebam dan memar yang sedikit mengganggu wajahku.
“tidak apa, hanya sedikit usaha untuk menikah denganmu” balasku dengan sedikit senyum yang aku yakin membuatku terlihat bodoh. Gadis itu segera menjauhkan tangannya dari wajahku dan menatap padaku dengan wajah terkejutnya.

Aku segera berlutut di hadapannya dan mengeluarkan seikat bunga dari balik tuxedoku dan menyodorkannya dengan lembut pada Eunsun yang masih menatapku dengan tatapan tak percaya.
“I’m back, Juliette” ucapku seraya menundukkan sedikit kepalaku dengan jantung yang berdegup dengan sangat kencang. terdengar tawa kecil yang sangat merdu darinya saat meraih bunga dari tanganku.
Dengan sedikit rasa tidak percaya, aku mendongakkan kepalaku dan menatap wajah lembutnya yang tengah tersenyum lebar dengan tawa bahagia yang melebar di bibirku.

Aku mengangkat tubuhku, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun dan membukanya perlahan.
“would you marry me?” ucapku seraya menyodorkan sebuah cincin yang berada di dalam kotak kecil itu yang membuat wajah Eunsun terlihat sangat kaget.
“Junhyung a…” gadis itu menatapku tak percaya.
“appa sudah menyetujui pilihanku, dan aku juga sudah bicara sedikit dengan ayahmu” ucapku dengan kerlingan jahil yang membuatnya segera melebarkan tawa kecil di bibirnya dan menghentikannya ketika aku meraih jemari tangannya dan memasangkan cincin pada jari manisnya.
“kau milikku sekarang” bisikku lembut di telinganya yang membuat sebuah senyum tergambar dengan sangat sempurna di wajahnya.
***

Ya, sejak saat itu kau sudah menjadi milikku. Dan kau tahu betapa bahagianya aku saat mengucapkan janji suci di depan altar bersamamu?
Aku tak pernah percaya pada kisah yang berakhir bahagia selamanya. Tapi saat itu, ketika kau berdiri di sampingku di depan altar. Kau tau? aku yakin, saat itu adalah sebuah awal dari cerita yang akan berakhir dengan bahagia. Dan aku percaya, kisah kita akan selalu terukir dengan bahagia dan sempurna.
***

“umma annyeong” gadis itu berlari kecil menuruni tangga menghampiriku yang tengah menikmati sarapan pagiku dan Eunsun yang sedang menyiapkan beberapa roti di piring Eunjung.

Yong Eunjung, malaikat kecil yang membuat hidupku terasa begitu sempurna.

Eunjung mengucapkan salam selamat paginya pada Eunsun seraya mencium kedua pipi wanita itu dan melakukan hal yang sama padaku sebelum meraih roti yang sudah di siapkan untuknya dan bergegas berlari keluar rumah dengan sebuah roti di tangan kanannya.
“ya! Eunjung a, habiskan dulu rotimu” Eunsun sedikit berteriak memanggil nama Eunjung yang hanya dibalas dengan sebuah senyum tanpa dosa saat gadis itu terus melangkahkan kakinya semakin jauh sambil berlari kecil membuat sebuah twa kecil melebar di bibirku.
“hey, aku berangkat sekarang” ucapku menepuk pundak Eunsun lembut yang membuat gadis itu tersenyum lembut padaku sesaat sebelum mengiringi langkahku berjalan keluar dari rumah.
***

Sungguh sempurna bukan? Semua terasa seperti mimpi bagiku. Bahkan diriku sendiri terkadang tak mampu mempercayai bahwa semua itu nyata. Semua bagai sebuah bualan terbesar yang begitu indah.
Tapi begitulah, aku mempunyai begitu banyak hari-hari yang begitu sempurna bersamamu. Kau selalu membuat segalanya terlihat indah. Dan seorang malaikat kecil darimu, malaikat kecil dengan mata yang indah sepertimu, malaikat kecil yang membuat seglanya terasa lebih sempurna.
Kau telah menunjukkan arti dari kesempurnaan padaku. Kau memberikan segalanya yang membuat hidupku begitu sempurna. dan kini, semudah inikah kau memintaku melupakanmu?
***

Aku melingkarkan tanganku di bahu Eunsun dan mendekap tubuhnya yang terasa begitu hangat. Aku mengelusnya dengan lembut dan memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang terlihat begitu sempurna bahkan saat air matanya jatuh perlahan membasahi kedua pipinya.

Aku memalingkan tatapanku ke depan altar, menatap dengan penuh perasaan bahagia pada Eunjung, yang terlihat sangat bahagia dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Eunjung menggenggam erat lengan seorang pria yang terlihat tak kalah bahagia darinya serya menikmati alunan lembut piano dari seorang gadis yang merupakan sahabat baik Eunjung.

Sampai disini, tugas kami selesai. Sampai disini, semua kewajibanku sudah terselesaikan. Eunjung, satu-satunya malaikat kecil kami sudah memilih hidupnya dan ini saatnya kami melepaskannya dengan bahagia. Semua yang bisa aku lakukan hanya berharap untuk hidupnya yang lebih baik.
***

Aku tau dan benar-benar mengerti bahwa saat ini, hanya kau yang kumiliki. Hanya kau yang akan selalu berada di sampingku, menemaniku. Menghabiskan sisa waktu yang kita miliki.
Aku cukup sadar bahwa waktu akan terus berlalu. Dan sejak saat itu aku selalu takut, aku takut memikirkan bagaimana jika suatu hari kau meninggalkanku? Aku terlalu takut untuk melewati hari-hariku tanpamu.
***

Aku menggenggam erat tangan Eunsun yang kini tengah terbaring lemah dan tersenyum dengan sangat rapuh padaku yang duduk tepat di samping ranjangnya.
“yeobo….” Tidak seperti dulu, suaranya terdengar benar-benar serak dan lemah. Dan aku hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyum yang tak kalah lelah dengannya.
“mianhae… aku tak bisa membuat semuanya berakhir dengan sempurna, mianhae…” aku tak begitu mengerti dengan maksud dari Eunsun dan hanya mampu menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“bisakah kau lupakan aku? Hapuskan aku dari semua ingatanmu, maka kau tak akan menangis” ucapnya yang membuatku semakin bingung. Tapi aku hanya memilih untuk diam dan hanya memandang wajahnya.
Entah mengapa aku merasa bahwa aku tak akan bisa lagi menatap raut wajahnya.

Perlahan gadis itu memejamkan matanya dan kurasakan telapak tangannya menjadi semakin dingin sesaat sebelum terdengar suara berisik dari elektrokardiograf dan garis lurus muncul di layar monitor.

Airmataku perlahan mulai berjatuhan membasahi wajahku.
“appa…” Eunjung menatapku dengan matanya yang berlinang airmata. Wajahnya terlihat begitu pucat, membuat aliran darahku terhenti untuk beberapa saat. Jantungku berdebar dengan sangat cepat.
Aku menatap dalam mata Eunjung. Yang dibalasnya dengan anggukan kecil, seolah dia mengerti maksud dari tatapanku.

Aku terdiam, airmata mengalir perlahan dari kedua mataku. Aku ingin berteriak. Berteriak sekeras yang ku bisa, aku ingin berlari dan terus berlari tanpa pernah berhenti sampai aku mampu meyakinkan diriku bahwa semua ini hanya mimpi.

Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku terlalu lemah untuk berlari. Bahkan suaraku sudah tak akan terdengar lagi saat aku berteriak. Aku sudah bukan seperti dulu lagi. Waktu benar-benar telah mengubah semuanya.
“Eunsun a….” airmataku terus berjatuhan tanpa henti seraya menggumamkan namanya berkali-kali.
Eunsun, Choi Eunsun. Satu-satunya hal terindah dalam hidupku. Satu-satunya yang kumiliki. Pergi, pergi meninggalkanku dan tak akan pernah kembali.

Eunjung memeluk tubuhku dengan sangat erat, menangis dengan sangat hebat. Dan terus mendekap tubuhku hingga beberapa dokter berlarian masuk ke dalam ruangan dan membawa Eunsun keluar dari dalam ruangan dimana aku sedang menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Eunjung.
***

“Appa… ireona, upacara pemakaman umma akan segera dimulai” seorang wanita menghampiri tubuh seorang laki-laki tua yang tengah terbaring dengan tenang di atas ranjangnya seraya menggenggam erat sebuah foto seorang wanita yang sudah memberikan kesempurnaan dalam hidupnya.
“appa….” Wanita itu menggoyngkan tubuh pria tua di atas ranjang dan segera menghentikannya dan wajahnya terlihat sangat terkejut ketika wanita itu menggenggam pergelangan tangan pria tua di dekatnya.

Airmata kembali jatuh perlahan dari kedua matanya yang sudah terlihat membengkak.
“appa ireona!” ucapnya setengah berteriak di sela-sela tangisnya membuat beberpa orang berlarian dengan panik masuk ke dalam kamar dan berusaha menenangkan wanita yang kini tengah menangis dengan histeris dan beberapa di antaranya mencoba memastikan keadaan pria tua yang sudah tak lagi bernafas di atas ranjangnya.


Aku tak akan membiarkan semuanya berlalu begitu saja
Semua kenangan antara kau dan aku
Semuanya tak akan ku lupakan dengan begitu mudah
Aku sungguh tak akan pernah mampu untuk melupakanmu,
Maka biarkanlah aku untuk terus bersamamu
Untuk terus mengikutimu, kemanapun kau pergi
Karena aku tak akan pernah bisa melewati apapun tanpamu,
Malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirim untukku.

The End**