첫눈 (First Snow)

Title : 첫눈 / First Snow
Author : coolcat951007
Genre : romance
Rate : general
Type : Oneshot
Cast :
- Yang Yoseob
- Daniel Chae
- Choi Eunsun



P.s. : tulisan yang di cetak miring itu berarti flashback yah *selain lagu* oh iya, saran nih, pas baca ff ini, coba sambil dengerin lagunya Yoseob ft Drama – First Snow and First Kiss deh





“aku bahkan tidak tau siapa cinta pertamaku” pria dengan topi yang menghiasi kepalanya itu mulai mengeluarkan suaranya menarik perhatian dua orang kru di hadapannya dan membuat seorang pria dengan wajah mungil di sebelahnya tersenyum masih sambil mencengkram lembaran-lembaran kertas yang sedang di pelajarinya.

“Hyung, apa kau ingat?” pria itu kini bertanya pada pria berwajah mungil yang hanya memberikan sedikit perhatiannya.

“aku tidak ingat” wajah mungilnya terlihat seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

“lihat…li…”

“kau lebih tua darinya?” salah seorang kru di hadapan mereka memotong kalimat pria bertopi itu yang membuat pria berwajah mungil di sampingnya menolehkan kepalanya menatap pria dihadapannya.

“aku lebih tua” balasnya yang membuat dua orang di hadapannya terlihat sangat terkejut.

“benarkah? Berapa umurmu? Ku kira kau lebih muda” seorang kru lainnya menanggapi membuat tawa ringan memecah suasana diantara mereka.



***

Yang Yoseob pov.


cheot nuni ogimaneul gidarin saram
haengbogi olgeorago mideotdeon saram
ibami gamyeon olkka
sarangi naege…


Lagu yang kunyanyikan bersama Daniel, rekan kerjaku yang belakangan menjadi sangat dekat denganku. Aku sangat menyukai lagu ini, bukan karena aku adalah yang menyanyikannya, tapi karena arti dari lagu yang kini tengah mengalun perlahan, menemaniku yang sedang duduk di dekat jendela. Memandangi pemandangan di luar sana dengan perasaan penuh harap. Menanti salju pertama yang akan turun. Berharap pada keajaiban salju pertama yang akan memberi keberuntungan bagi kita. Berharap kau akan datang, kembali disini bersamaku saat salju pertama turun.

Aku melebarkan senyumku dengan mata terpejam, menggenggam secangkir coklat hangat dengan sangat erat. Wajahnya, kembali muncul di benakku. Menghiasi setiap pikiranku. Merasuki seluruh ragaku.

Aku merindukannya, akan kah dia datang sekarang? Saat salju pertama turun atau saat lonceng natal berbunyi esok pagi. Akan kah kali ini dia akan mengabulkan doaku?

Aku menghembuskan napasku perlahan. Membuka mataku dan meminum coklat hangat dari sebuah cangkir yang terus ku genggam. Mataku beralih keluar jendela menunggu jatuhnya salju pertama.

Aku memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di seberang jalan. Dengan pakaian lapis mereka yang sudah siap menyambut turunnya salju, mereka berjalan dengan senyum yang melebar di bibir mereka. Banyak pasangan kekasih yang berjalan bergandengan dengan sangat gembira menanti salju pertama yang akan memberi keajaiban pada cinta mereka.

Kusandarkan kepalaku yang masih di penuhi oleh wajah itu. Wajah gadis yang sangat kurindukan. Yang sudah sangat lama kunanti. Hatiku terasa hangat dan senyumku ingin terus mengembang, aku sangat bahagia walau hanya melihatnya dalam pikiranku. Aku sudah sangat senang walau hanya membayangkan saat aku menggenggam tangannya berjalan di antara turunnya salju pertama. Walau aku tak tau, kapan semua itu terjadi. Aku sudah cukup senang.



***

“hyung!” pria itu melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya saat baru saja aku memasuki sebuah kedai sederhana yang di sukainya.

Aku berjalan mendekat ke arahnya dan mengisi tempat duduk yang masih kosong dihadapannya.

Daniel, Daniel Chae. Aku bertemu dengannya saat perusahaan menawari kami untuk menyanyikan sebuah lagu bersama. Lagu yang sangat indah, yang sangat aku sukai. Pria dengan matanya yang sangat sipit ini, sedikit manja. Dan aku suka berteman dengannya. Pria dengan perasaannya yang sensitif dan sangat senang tertawa. Walaupun terkadang aku merasa risih mendengar suaranya yang sedikit berisik, namun aku suka. Walau hanya berdua dengannya, aku tak pernah merasa sepi.

“hyung…aku ingin menceritakan sesuatu padamu” pria itu memulai pembicaraan di antara kami.

“aku bertemu dengan seorang gadis, dan sejak itu aku terus memikirkannya” wajahnya terlihat sedikit memerah saat mengawali ceritanya yang membuatku melebarkan senyum gemasku.

“kau menyukai gadis itu?” tanya ku dengan sedikit menggoda.

“arrghh hyung, aku tidak tau” ucapnya seraya mengacak sedikit rambutnya yang membuatku tertawa lebar.

“apa yang kau rasakan saat bertemu dengannya?” tanyaku memastikan dengan sedikit menyipitkan kedua mataku membuatnya sedikit menjauhkan dirinya dariku.

Sesaat dia menatapku ragu dengan wajahnya yang bersemu kemerahan.

“rasanya ada yang berdetak kencang disini” jawabnya lugu seraya menyentuh bagian jantungnya dengan kedua telapak tangannya.

“itu berarti kau benar-benar menyukainya”

“benarkah?” kali ini aku hanya membalasnya dengan anggukan lembut.

Aku diam, menatap Daniel yang terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan sangat keras seraya memainkan jari telunjuknya di pinggiran cangkir di hadapannya.

“jika kau sudah yakin menyukainya, kejarlah” ucapku memecah keheningan, membuat Daniel segera mendongakkan wajahnya menatap kearahku dengan sedikit bingung.

“sepertinya tidak mudah, hyung”

“bagaimana kau bisa tau sebelum mencobanya?” pria itu terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu untuk di ucapkannya. Dan aku hanya memilih diam, menunggu bibirnya mengucapkan sesuatu.

“hyung… gadis ini berbeda” kalimat yang pada akhirnya meluncur keluar dari bibirnya, membuatku sedikit mengerutkan dahiku.

“dia… bahkan untuk mendengar suaranya saja, kau harus menunggu sangat lama. Tidak semua orang bisa mendengar suaranya. Mereka hanya bisa melihat senyum tipis yang selalu menghiasi bibirnya” lanjutnya dengan tatapan menerawang. Aku yakin, saat ini dia sedang mengingat wajah gadis itu dalam pikirannya.

“dia sangat pendiam dan…. tertutup” aku tetap memilih diam, karena aku tau masih ada sesuatu yang akan segera keluar dari bibirnya.

“bahkan kau tau? Dia menarik tangannya dan memasukannya ke dalam saku jaketnya saat aku hendak menggenggamnya” Daniel mengakhirinya dengan menghembuskan napasnya dengan lemas.

“siapa namanya?”

“Eunsun, Choi Eunsun” balas Daniel yang membuat napasku terhenti untuk beberapa saat. Pikiranku kembali melayang pada gadis itu, gadis yang selalu muncul di setiap mimpiku.

Ah tidak mungkin, bukankah gadis bernama Choi Eunsun tidak hanya satu atau dua, tapi ada sangat banyak di korea ini. Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran negatif yang tiba-tiba menghantuiku.



***

Gadis itu duduk di sebuah kursi yang di lindungi oleh sebuah pohon maple yang sudah mulai menguning. Dengan kepalanya yang sedikit menunduk, gadis kecil itu membaca sebuah buku dongeng di pangkuannya.

“EunSun a, apa yang sedang kau baca?” seorang pria kecil duduk di samping anak perempuan yang kini menutup buku dipangkuannya dan tersenyum pada pria di sampingnya.

“oppa, apa kau tau cerita tentang salju pertama?” anak laki-laki dengan wajah lugunya itu menggelengkan kepalanya dengan yakin.

“ah kau payah oppa!”

“biar saja, cepat ceritakan padaku tentang salju pertama itu”

“ah, jadi begini… jika salju pertama turun, pejamkan matamu, dan ucapkanlah harapanmu dalam hati dan semua akan menjadi nyata! Dan jika kau menggandeng tangan seseorang saat salju pertama turun, kau tidak akan berpisah dengannya” anak laki-laki di sampingnya mendengarkan dengan takjub cerita yang baru saja dikatakan gadis kecil di dekatnya.

“ah ini sudah musim gugur, berarti sebentar lagi musim dingin,kan? Aku ingin menggandeng tanganmu Eunsun a!”anak laki-laki itu melebarkan senyumnya seraya meraih tangan mungil gadis di dekatnya dan menggenggamnya dengan sangat erat.

“aku juga akan berharap supaya bisa selalu dengan oppa. aku kan tidak punya teman lagi selain oppa” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir mungil gadis itu yang di balas dengan senyum lebar dari pria kecil di dekatnya.



Aku menghela napas panjang saat tersadar dari lamunan masa lalu yang terus menghantui pikiranku setiap harinya.

Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi tetap saja aku tak pernah bisa menghapuskan bayangan itu sedikitpun. Cinta masa kecil yang terasa begitu hangat.

Impian untuk menggenggam tangannya saat salju pertama turun. Kapan impian itu akan terwujud? Bahkan saat salju pertama jatuh setiap tahunnya, aku selalu mengucapkan harapanku. Selalu berharap akan bertemu dengannya lagi dan menggenggam tangannya saat salju pertama turun.

“apa kau masih tak punya teman, Eunsun a?” sebuah tawa ringan keluar dari bibirku mengiringi sebuah pertanyaan yang tak terjawab.



***

“hyuuunngg!” suara berisik itu, sungguh sudah sangat akrab di telingaku. Aku meletakkan cangkir ku yang berisi coklat hangat di atas meja di hadapanku. Sesaat, sebelum aku menolehkan kepalaku ke asal suara, sang pemilik suara sudah mengisi tempat di hadapanku.

“sudah ku duga kau pasti disini!” ucapnya dengan senyum yang mengembang dengan sangat lebar.

“ada apa?”

“kau tau? aku sudah mulai sedikit dekat dengannya, hyung” Daniel, bercerita dengan semangat. Senyumnya terlihat sangat cerah melebar di bibirnya.

“benarkah? Chukkahae” ucapku dengan senyum yang sedikit ku lebarkan.

“ah hyung, kau mau lihat orangnya? Kemarin aku membuat foto dengannya di taman” Daniel mengambil dompet dari sakunya dan mengeluarkan selembar foto yang segera di berikan padaku.

Aku meraih foto itu dan menatapnya dengan sedikit terkejut. Gadis yang tengah tersenyum kecil dengan Daniel di sampingnya dengan senyum lebarnya. Gadis dengan senyum yang sama seperti gadis yang selalu menghantuiku. Gadis dengan mata yang sama. Gadis yang kunanti selama ini. sungguh, wajahnya tak berubah sedikitpun. Hanya terlihat lebih dewasa dan cantik.

“dia sangat menyukai lagu kita, hyung. Sama sepertimu” samar-samar aku mendengar suara Daniel yang tidak ku hiraukan sepenuhnya. Aku masih terlalu sibuk untuk memandangi wajah gadis yang sudah sangat lama kurindukan. Senyum yang selalu menghiasi mimpiku.

“ternyata dia juga sangat menyukai coklat hangat sepertimu” coklat hangat? Tidak, aku tidak suka coklat hangat. Aku benci coklat. Aku bahkan menumpahkan coklat hangat darinya saat pertama kali kami bertemu. Aku… aku hanya ingin mengingatnya. Aku hanya merasa berada di dekatnya saat aku meminum coklat hangat. Itu sebabnya aku selalu meminumnya walaupun aku tidak menyukainya. Hatiku terasa begitu sesak saat ingatan tentang dirinya kembali berputar dalam kepalaku.

Anak laki-laki itu berjongkok di samping sebuah kursi di dekat pohon maple dengan pakaiannya yang sedikit basah. Pria kecil itu menenggelamkan wajahnya pada kedua kakinya yang dipeluk dengan sangat erat. Bahunya terlihat bergetar.

Anak itu mendongakkan sedikit kepalanya saat di rasakan olehnya kehadiran seseorang di sampingnya.

“siapa kau?” anak itu bertanya dengan ragu pada seorang gadis kecil yang membawa payung di tangan kirinya dan secangkir coklat hangat di tangan kanannya. Gadis itu hanya menatap pria kecil itu dengan wajah tenangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Anak laki-laki itu menatapnya dengan bingung, tangisnya terhenti meski air matanya masih terus mengalir saat gadis kecil itu menyodorkan secangkir coklat hangat yang hanya dibalas dengan tatapan waspada dari pria kecil yang kini mulai mengangkat tubuh dari posisi jongkoknya.

“ini akan membuatmu merasa hangat, minumlah” perintah anak perempuan itu yang memaksa pria kecil dihadapannya menerima cangkir itu.

“aku tidak suka coklat” gadis itu tetap memaksa anak laki-laki dihadapannya untuk menerima coklat darinya.

“aku bilang aku tidak suka!” bentak anak laki-laki itu seraya membanting cangkir dari gadis itu ke tanah yang sudah di basahi oleh hujan yang terus jatuh membasahi bumi.

Air mata kembali menggenang di mata mungil anak laki-laki itu dan kembali menetes membasahi wajah mungilnya.

“kenapa menangis? Apa kau juga tidak suka hujan?” gadis kecil dihadapannya bertanya, seolah sudah melupakan saat pria kecil di hadapannya membuang coklat hangat darinya. Wajahnya terlihat sedikit khawatir.

Pria dihadapannya hanya menatapnya dan menggeleng perlahan.

“aku tidak benci hujan. Aku hanya takut petir” gadis kecil itu tertawa kecil mendengar jawaban dari pria di hadapannya.

“kata umma, hanya anak bayi yang takut pada petir.. sudahlah~” gadis itu menepuk-nepuk bahu pria kecil di dekatnya dengan lembut.



Aku tetap menundukkan wajahku dan menutupi senyum pahit yang mulai melebar di bibirku. Hatiku terasa sangat perih. Aku bahkan tak mampu untuk menatap wajah Daniel di hadapanku saat ini.

“ah dia benar-benar mirip denganmu, hyung. Bahkan dia percaya pada salju pertama seperti mu” kalimat Daniel tentang salju pertama, entah mengapa terdengar dengan sangat jelas di telingaku.

Salju pertama? Bahkan saat aku sudah berada sangat dekat dengannya, aku tak akan pernah bisa menggenggam tangannya saat salju pertama. Daniel, aku yakin dia adalah orang yang akan menggandengnya dan membawanya berkeliling mengitari jalanan di sekitar pohon maple yang sudah sangat tua itu saat musim dingin tiba.

***

Aku menyandarkan tubuhku pada jendela di sampingku dengan secangkir coklat panas yang ku genggam dengan sangat erat. Air mata, perlahan mulai jatuh membasahi wajahku. Aku menatap keluar jendela. Memperhatikan daun-daun pohon maple yang berwarna kuning keemasan mulai berjatuhan satu demi satu.

Hanya tinggal menghitung hari saat musim dingin akan datang. Saat salju pertama akan turun. Apa yang harus kulakukan? Apa boleh aku tetap berharap untuk dapat menggenggam tangannya? Apa masih mungkin impianku akan terwujud saat salju pertama?

Sepertinya aku benar-benar bodoh, percaya pada keajaiban dan harapan yang diucapkan pada saat salju pertama jatuh. Semua itu tak mungkin jadi nyata,kan? Salju pertama atau terakhir. Semuanya sama, bukan? Tak ada yang istimewa dari salju pertama. Dan aku benar-benar bodoh telah percaya padanya. Aku benar-benar bodoh sudah menghabiskan seluruh malam ku untuk terjaga menyaksikan salju pertama dan terus menyebut nama gadis itu dalam hatiku, berharap akan ada keajaiban.

Berhentilah menjadi bodoh, Yang Yoseob!

Aku berusaha menghentikan air mata yang terus mengalir dengan leluasa membasahi kedua pipiku. Mengeratkan genggamanku pada cangkir yang tiba-tiba saja terjatuh dari genggamanku. Coklat hangat berserakan di lantai, dan aku hanya mampu menatapnya. Teringat kembali pada saat pertama kali aku membuang coklat hangat darinya. Persis seperti ini.

Kini air mata kembali mengalir dengan lebih deras. Aku terus mengutuki diriku sendiri untuk menghentikan tangisan yang sedikit memalukan ini. tangisan yang membuat hampir seisi kedai menatap aneh ke arahku. sungguh aku tak peduli apapun lagi saat ini. aku menyerah, dan membiarkan begitu saja air mataku mengalir dengan sangat deras. Membiarkan suara isak tangis keluar perlahan dari bibirku.



***

Sungguh, jika saja bisa aku sangat ingin menghindar darinya. Daniel Chae. Berhentilah muncul di hadapanku. Berhentilah membuatku semakin ingin membencimu.

“hyung, kemarin aku menyatakan perasaanku pada Eunsun” ucap Daniel dengan senyum yang terlihat sedikit di paksakan yang hanya kubalas dengan senyum getir.

“kau kenapa, hyung? Seperti kurang sehat” tanya Daniel cemas yang hanya kubalas dengan anggukan pelan.

“badanku terasa tidak enak, kita bicara lain kali saja ya, Daniel” balasku seraya mengangkat tubuhku berjalan menjauh darinya. Aku tak mampu lagi untuk mendengar cerita Daniel.

“hyung, dia masih mengingatmu dan menunggu bergandengan denganmu saat salju pertama” samar, aku mendengar suara Daniel berteriak dari kejauhan.

Cih, bahkan aku mulai berhalusinasi tentang ini. kuharap aku akan segera melupakannya. Bukankah Daniel sudah menyatakan perasaannya? Maka sekarang Eunsun sudah menjadi milik Daniel. Bukan aku. Ya, aku hanya cinta masa kecilnya. Ah bukan, aku lah yang mencintainya. Dia mungkin saja hanya menganggapku sebagai teman kecilnya.



***

Anak laki-laki itu berlari mendekati sebuah kursi kosong di dekat pohon maple. Dengan wajahnya yang cerah dan tubuhnya yang di balut dengan pakaian lapis yang cukup tebal, dia menduduki kursi itu. Menunggu seseorang yang akan datang menemuinya.

Wajah mungilnya berkali-kali di dongakkan olehnya untuk memandangi langit yang sebentar lagi akan menjatuhkan butir-butir salju yang lembut. Matanya berkali-kali melirik jam yang melingkar ditangan kirinya dengan cemas.

Sebuah napas panjang dihembuskan olehnya. Perlahan, senyum dibibirnya semakin memudar. Hingga saat salju pertama jatuh. Pria kecil itu segera memejamkan matanya.

‘cepatlah datang, Eunsun a’ bisiknya menyelipkan harapan pada salju pertama yang mulai jatuh.

Perlahan, dia membuka kembali kedua matanya dan menunggu gadis kecil yang tak juga muncul. Menunggu gadis yang bahkan dia tak tau berada dimana. Menunggu. Hanya itu yang dilakukannya, dengan airmatanya yang perlahan mengalir jatuh membasahi wajah mungilnya.



Bayangan itu kembali tergambar di hadapanku. Saat aku menatap sebuah kursi kosong di dekat pohon maple yang terlihat sudah sangat tua. Sudah lama sekali rasanya aku tak melangkahkan kaki ku kemari. Aku tak pernah mampu mendatangi tempat ini. tempat yang menyimpan sangat banyak kenangan tentang aku dan gadis itu. Gadis yang terus menghantui pikiranku, yang selalu membuatku menangis. Gadis yang selalu meninggalkanku.

Aku melangkahkan kaki ku perlahan mendekati kursi tua itu. Mendudukkan tubuhku dengan sedikit ragu di kursi itu. Melebarkan senyum pahit di bibirku dan menatap langit yang sebentar lagi akan menjatuhkan salju pertamanya.

Salju pertama, hal paling bodoh yang pernah ku percaya. Aku memejamkan perlahan mataku, dan membiarkan air mata mengalir membasahi wajahku.

“sudah lama menunggu?” suara lembut dari seorang gadis yang terasa sangat dekat denganku, membuatku segera membuka kedua mataku dan mengelap air mata di wajahku dengan tergesa.

Dengan sangat terkejut, aku memandang sosok gadis bertubuh mungil dihadapanku dengan sangat tidak percaya.

Gadis itu tersenyum dengan lembut dan mengambil duduk tepat di sampingku.

“maaf, waktu itu aku tak sempat mengabarimu. Aku harus pindah ke Paris karena pekerjaan ayahku. Jadi aku tak bisa menemui mu saat salju pertama turun” ucapnya yang membuatku merasa sedikit lega. Tanpa ku sadari sebuah senyum melebar di bibirku. Namun aku segera menghentikan senyumku, ketika pikiran tentang Daniel melayang di otakku. Bagaimana pun gadis di hadapanku ini sudah menjadi milik Daniel. Bukan aku.

Aku mengalihkan pandanganku darinya dan bergegas untuk mengangkat tubuhku berjalan menjauh darinya. Namun gadis itu menahan tanganku. Memaksaku untuk kembali duduk di sampingnya dengan senyum lembut darinya.

“sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu… apa kau masih takut petir, oppa?” tanya nya dengan senyum yang membuat dadaku terasa sesak.

“ah, maaf. Aku masih boleh memanggil mu oppa kan, Yoseob-ssi?” gadis itu melanjutkan pertanyaannya dengan sangat perlahan.

“bukankah seharusnya kau menghabiskan hari ini dengan Daniel? Menghabiskan salju pertama dengan bergandengan tangan bersamanya. Kenapa malah datang kemari?” aku memberanikan diriku mengucapkan kalimat itu yang membuat tawa kecilnya meledak.

“kenapa aku harus dengan Daniel? Bukankah kau yang sudah berjanji akan menggandengku saat salju pertama turun, Yoseob-ssi?” balasnya yang membuatku segera melemparkan pandangan penuh tanya padanya.

“Daniel Chae. Dia adalah pria yang sangat baik, aku suka berada di dekatnya. Namun aku tak bisa menerima nya. karena aku masih menunggumu”

“ku kira Daniel sudah memberitau mu” lanjutnya yang membuatku sedikit mengernyitkan dahiku.

“hyung, dia masih mengingatmu dan menunggu bergandengan denganmu saat salju pertama” suara Daniel kembali terngiang di kepalaku. Membuat sebuah tawa bodoh melebar di bibirku.

“waktu itu ku kira aku salah dengar, karena aku tak mendengarkan Daniel dengan baik” gumamku sambil mengacak sedikit rambutku saat baru menyadari betapa bodohnya diriku.

Eunsun, gadis yang kini duduk di sampingku melebarkan senyumnya dan sedikit menggodaku dengan kalimat yang mengatakan bahwa aku bodoh. Ya, aku memang bodoh.

“oppa, Daniel bilang kau suka coklat hangat. bagaimana bisa? Seingatku kau tidak suka coklat hangat”

“karena coklat hangat akan mengingatkanku padamu” balasku yang membuat tawanya meledak.

Aku terdiam, menatapnya dengan senyum lembut yang mengembang di bibirku. Kurasakan jantungku berdetak sangat kencang saat menatapnya seperti ini.

Perlahan, tanganku mulai menyentuh jemarinya yang hangat dan menggenggamnya dengan sangat erat saat kulihat sebuah senyum yang juga terukir di bibir mungilnya.

Aku terus memandangi wajahnya yang juga tengah menatapku. Perlahan, ku rasakan wajahku semakin mendekat dengan miliknya. Hingga ku rasakan sesuatu yang hangat dan basah menempel di bibirku. Bibir mungil miliknya, terasa begitu lembut. Aku mengulumnya dengan perlahan. Bibir mungil dari gadis yang sangat aku rindukan. Dan tanganku, semakin erat menggenggam tangan mungilnya. Hingga ku rasakan butiran lembut dan dingin menyentuh wajahku.

Gadis itu menarik wajahnya dan menatap langit dengan senyum yang sangat indah.

“oppa, salju pertama sudah turun” ucapnya yang kubalas dengan sebuah senyum.

Bukan hanya menggenggam tangannya, tapi aku juga mencium bibirnya untuk pertama kali. Mencium gadis yang selalu muncul dalam mimpiku. Cinta pertamaku. Dan aku percaya aku tak akan kehilangan gadis ini untuk kedua kalinya. Karena aku akan selalu menjaganya. Salju pertama malam ini, sudah menjadi saksi bahwa semua impian kami tidak sia-sia. Dan kami akan selalu bersama menghabiskan setiap salju pertama di setiap tahun-tahun yang akan datang.



cheot nuni oneun georie (On the streets where the first snow falls)
geunyeowa nuneul majeumyeo (Meeting eyes with her)
geudaereul angoseo, haneureul narasseo (I flew above the skies holding her in my arms)
neoneun naui cheossarang (You are my first love)
sarangeul juneun georie (On the streets where they exchange love)
geunyeowa ibeul matchumyeo (Kissing her on her lips)
i bameul hamkkehae, pyeongsaengeul hamkkehae (Let’s spend this night together, together forever)
neoneun naui cheossarangiya (You are my first love)

THE END**